Empat Alasan Lukaku Bersinar di Inter, Satu Terluka Polah Media Inggris

Berita Bola – Datang dengan julukan pemain gagal Manchester United, Romelu Lukaku berubah menjadi mesin 31 gol bagi Inter Milan. Apa sih rahasianya? Ada empat alasan dengan tiga merupakan resep Antonio Conte, satu karena terluka polah media Inggris.

Ketika mendapatkan tawaran pekerjaan di Giuseppe Meazza, manajer Antonio Conte langsung meminta pihak klub mendatangkan penyerang Belgia bertubuh besar ini dari Old Trafford, yang menjadi target transfer utamanya. Sementara Manchester United ngotot dengan banderol mereka senilai 1,3 trilyun rupiah, banyak pihak menyebut transfer Romelu Lukaku ke Inter terlalu mahal, terlebih karena dia dinilai tidak cukup baik selama waktunya di Old Trafford, semakin terpinggirkan pada era manajer Ole Gunnar Solskjaer.

Akan tetapi penyerang 27 tahun itu kemudian membuktikan kelasnya di Italia, sukses mencetak 31 gol sejauh ini dari 49 penampilan, menjadi tokoh kunci Inter Milan yang finish di urutan kedua Serie A, dengan selisih hanya satu poin dari Juventus, dan figur penting kelolosan mereka ke semifinal Liga Europa.

Bahkan menurut penilaian whoscored.com, Romelu Lukaku adalah pemain Nerazzurri dengan rating tertinggi sebesar 7,30 selama musim 2019/2020 di Serie A. Berikut empat alasan mengapa bomber Belgia mampu bangkit dan menjalani musim yang sukses bersama Inter Milan.

Lukaku Tak Terluka Lagi Oleh Media Inggris yang Lebay

Pertama, ada perubahan dengan kurangnya sorotan media. Media-media Inggris dikenal terlalu kritis dan lebay sehingga sering memberikan tekanan dan mengganggu mental para pemain sepak bola dengan liputan gosipnya. Di Italia, sorotan dan kritik media jauh lebih sedikit sehingga Romelu Lukaku bisa lebih berkonsentrasi terhadap sepak bolanya.

Empat Alasan Lukaku Bersinar di Inter, Satu Terluka Polah Media Inggris
Empat Alasan Lukaku Bersinar di Inter, Satu Terluka Polah Media Inggris

Taktik Serangan Balik Antonio Conte

Kedua, taktik serangan balik Antonio Conte. Pelatih Italia tersebut mampu meramu taktik serangan balik yang sangat brilian. Contoh terbaru lihat bagaimana Inter hanya menguasai 36 persen bola pada perempat final Liga Europa melawan Bayer Leverkusen, tapi mampu menciptakan 18 tembakan, dua kali lipat di atas lawan mereka dari Jerman tersebut. Lukaku yang kurang nyaman dalam permainan penguasaan bola dan umpan-umpan pendek jadi diuntungkan dengan taktik serangan balik kilat bos Italia ini.

Ruang Kosong yang Diciptakan Lautaro Martinez

Ketiga, permainan Lautaro Martinez. Seperti yang ditunjukkan kala melawan Bayer Leverkusen, penyerang Argentina itu mampu dengan baik mengeksploitasi ruang kosong di pertahanan lawan. Nama besar Lautaro menyebabkan para pemain bertahan lawan tertarik ke arahnya dengan pergerakannya sehingga memberikan ruang lebih terbuka bagi Lukaku untuk mendapatkan peluang dan mencetak gol di dalam kotak penalti.

Perubahan Formasi Inter Milan

Keempat, perubahan formasi. Romelu Lukaku lebih nyaman bermain dengan satu mitra striker di lini depan ketimbang bermain sebagai striker tunggal. Perubahan formasi dari 4-2-3-1 ke 3-5-2 membuat bomber 27 tahun itu semakin enjoy di depan, menikmati kerjasama yang mengesankan dengan Lautaro Martinez atau Alexis Sanchez yang umumnya berperan sebagai striker kedua bagi bomber pencetak 23 gol di Serie A tersebut. Itulah empat rahasia mengapa Lukaku akhirnya berubah menjadi mesin gol bagi Inter, sesuatu yang tak bisa dimengerti di Manchester United tapi dimanfaatkan secara baik oleh Antonio Conte.

Empat Alasan Lukaku Bersinar di Inter, Satu Terluka Polah Media Inggris
Empat Alasan Lukaku Bersinar di Inter, Satu Terluka Polah Media Inggris